Tentang Kesunyian

 

“Saya sedang butuh waktu untuk sendiri.” Kata seorang teman.

Sebagai ketua kelompok, saya mengizinkannya, kalau-kalau keramaian yang sebegini tajamnya sewaktu-waktu bisa membunuhnya. Begitu juga saya, belakangan ini saya merasa keramaian sama halnya dengan mie instan yang sama sekali tidak menyehatkan, sehingga saya memilih satu sudut yang sunyi dan duduk tenang membaca buku. Padahal, sebenarnya tidak juga. Betapapn tidak menyehatkannya mie instant, ia juga dibutuhkan. Sunyi yang suci itu tak selamanya bergizi, kadang kita butuh berbaur juga dengan yang lain, kendati dalam keramaian dan keterbauran itu kita tetap dilimpahi kesunyian.

Begitu, cara saya menikmati dan merayakan nikmat kesunyian ini. Hingga saya berhenti menulis paragraf yang tak seberapa ini, tepat pada lirik terakhir lagu yang diputar di komputer saya:

Ternyata, sudah sangat malam.

 

SEPEDA DAN HUJAN

Di sini, mungkin hujan

Tak akan berhenti,

Juga pada bebatuan hatimu.

 

Sepasang kaki telah bersiap

memacu roda sepedamu

–melepas satu milyar rintik hujan

Jauh di belakang tumitmu

 

:Kita mesti berjalan

Tepat pada waktunya, pikirmu.

 

Tapi di sini, di jalan ini;

Menatap langit yang tak akan biru,

Hujan belum juga reda

Di kerut halaman keningmu.

 

Solo, 2017